Sunday, October 11, 2009

Perumpamaan-Perumpamaan Yesus



Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32)


Perumpamaan tentang anak yang hilang menceritakan tentang kehidupan seorang bapa dengan dua orang anaknya. Suatu hari, anaknya yang bungsu meminta harta warisan yang merupakan bagiannya dan pergi meninggalkan keluarganya ke negeri yang jauh. Di negeri tersebut, ia berfoya-foya hingga uangnya pun habis. Setelah menghabiskan uangnya, si anak bungsu hidup menderita sampai ingi memakan ampas babi tempat ia terpaksa bekerja sebagai penjaga babi.
Ia pun menyesali perbuatannya dan memutuskan untuk kembali ke sang bapak. Awalnya ia takut sang bapak tidak akan menerima ia sebagai anaknya. Namun setelah bertemu dengan bapaknya, ia ternyata disambut dengan tangan terbuka. Ayahnya bahkan memberikan ia pakaian baru dan membuat pesta yang besar untuk menyambus sang anak.
Sang anak sulung pada awalnya merasa tidak terima atas perbuatan sang ayah pada adiknya. Namun ayahnya menjelaskan bahwa ia telah menemukan anaknya yang hilang ini, yang sekaligus adalah adiknya sendiri, anak sulung pun merasa sangat bergembira.
Alasan memilih perumpamaan ini:
Perumpamaan ini menggambarkan bentuk kasih Allah kepada manusia yang tidak berkesudahan, maha penyayang dan pengampun. Hal ini digambarkan dengan bapak yang masih menerima anaknya meskipun anak tersebut sudah menyakiti hatinya.

Pelajaran-pelajaran dari perumpamaan ini:
1. Kasih Allah (Bapak) kepada anakNya tidak pernah berubah dan berkesudahan meskipun sang anak seringkali melukai hatiNya. Kita sebagai manusia, terkadang lupa bahwa selama ini kita telah menyakiti hati Tuhan dengan perbuatan-perbuatan kita. Dosa-dosa yang kita perbuat menunjukkan betapa tidak dewasanya kita sebagai anak Tuhan. Namun, setelah kita menunjukkan kesediaan kita untuk meminta ampunan Tuhan, Ia pasti akan menerima kita kembali dalam kerajaan Allah.
2. Kehidupan yang berfoya-foya, menikmati kenikmatan duniawi hanya akan membuat kita melupakan Tuhan. Namun setelah kita sadar dan lepas dari kehidupan duniawi tersebut, kita pasti akan kembali pada Tuhan.
3. Manusia sangat mudah jatuh pada hal-hal lahiriah yang seringkali menyebabkan manusia juga jatuh ke dalam dosa. Hal ini dengan mudah dilakukan manusia tanpa berpikir panjang.
4. Anak sulung menggambarkan manusia yang merasa perlu untuk selalu mendapatkan penghargaan dari Tuhan. Dalam perumpamaan tersebut, anak sulung merasa bahwa ia merasa diduakan. Padahal, jika ia ingin mengadakan pesta, sang bapak pasti menyetujui, karena sang bapak juga mengasihi anak sulung tanpa membedakan.
5. Kita diajarkan untuk saling mengasihi tidak hanya sesama orang beriman, namun mereka yang ‘hilang’. Kita diajar Yesus untuk membantu agar mereka-mereka yang ‘hilang’ ini dapat kembali menemukan jalan ke Tuhan Yesus.

Shock Effect:
Shock effect yang disampaikan Yesus lewat perumpamaan ini adalah ketika sang bapak yang diyakini oleh anak bungsu tidak akan menerima dirinya, ternyata menyambut kepulangan sang anak bungsu dengan tangan terbuka, bahkan sampai mengadakan pesta untuknya. Yesus mengajarkan kita bahwa ia selalu menerima semua anak manusia tanpa terkecuali lewat ayat 32: “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”.

Perumpamaan tentang Talenta (Matius 25:14-30, Lukas 19:11-27)


Perumpamaan ini menceritakan tentang seorang tuan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya. Hamba pertama menerima 5 talenta, hamba kedua 2 talenta dan hamba yang ketiga sebanyak 1 talenta. Setelah itu sang tuan pergi ke luar negeri.
Hamba yang pertama datang kepada tuannya setelah ia kembali dengan memperoleh laba 5 talenta. Hamba yang kedua menghadap tuannya dengan membawa laba 2 talenta. Sedangkan hamba yang terakhir datang tanpa membawa laba karena ia menyebunyikan talenta tersebut sampai tuannya pulang.
Setelah masing-masing hamba memberikan talenta beserta labanya pada sang tuan, hamba yang pertama dan yang kedua diberikan tanggung jawab yang lebih besar oleh sang tuan. Sedangkan hamba yang ketiga dicampakkan karena ia malas dan tidak berguna.
Alasan memilih perumpamaan ini:
Manusia seringkali melupakan betapa berharganya talenta-talenta yang diberikan Tuhan. Kami melihat bahwa perumpamaan ini menyadarkan kita betapa beruntungnya manusia yang diberi talenta secara cuma-cuma, namun seringkali melupakan betapa pentingnya untuk mengembangkan talenta-talenta tersebut. Perumpamaan ini membentuk pola pikir kita untuk selalu bersyukur dan mengembangkan kehidupan kita sebagai manusia untuk kemuliaan Allah.

Pelajaran-pelajaran dari perumpamaan ini:
1. Tuhan Yesus memberikan setiap manusia talenta dalam bentuk yang sangat beragam dengan jumlah yang beragam pula. Ada yang diberi talenta bernyanyi, berorganisasi, melukis, bermain musik, dsb. Kita dituntut untuk selalu mengembangkan talenta-talenta yang diberikan Tuhan kepada kita agar dapat kita pertanggungjawabkan pada saat Yesus datang kembali.
2. Dengan talenta yang jumlahnya berbeda-beda disetiap orang, kita dituntut untuk selalu bersyukur dengan apapun dan berapapun talenta yang kita miliki karena hal-hal yang kita lakukan semuanya adalah untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kita pertontonkan semata.
3. Hamba yang tidak mengembangkan talentanya, pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan apa yang telah Tuhan berikan padanya. Ketika ia tidak mengembangkan talenta yang telah diberikan oleh tuannya, ia pun akhirnya dicampakkan karena dianggap tidak berguna.
Shock Effect:
Shock effect dari perumpamaan ini adalah ketika sang hamba ketika yang hanya diberi satu talenta ternyata menyembunyikan talentanya sehingga tidak menghasilkan laba apaun. Berbeda dengan kedua hamba sebelumnya, ia merasa bahwa talenta miliknya harus ia jaga baik-baik, tanpa perlu dikembangkan. Hal ini membuat tuannya marah dan menghukumnya karena tidak berusaha dengan kapasitasnya untuk mengembangkan apa yang telah diberikan secara cuma-cuma padanya.


Perumpamaan tentang Seorang Penabur (Matius 13:1-23, Markus 4:1-20, Lukas 8:4-15)


Perumpamaan tentang seorang penabur menceritakan tentang seorang penabur benih yang menaburkan benihnya di 4 jenis tanah. Sebagian benih jatuh di pinggir jalan, sebagian di tanah yang berbatu-batu, sebagian di tengah semak duri, dan sebagian lagi di tanah yang baik.
Benih yang jatuh di pinggir jalan pada akhirnya diinjak orang dan dimakan habis oleh burung. Yang jatuh ditanah berbatu-batu tumbuh dengan cepat namun segera layu dan kering karena tidak berakar. Benih yang jatuh ditengah semak duri terhimpit hingga mati dan tidak berbuah. Sedangkan benih yang jatuh di tanah yang baik berbuah, ada yang seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat.
Yesus menjelaskan arti dari perumpamaan ini, bahwa tanah dalam perumpamaan ini adalah hati manusia. Benih yang jatuh dipinggir jalan melambangkan hati manusia yang tidak mengerti firman Tuhan sehingga iblis datang merampas firman Tuhan tersebut. Tanah yang berbatu-batu melambangkan mereka yang mendengar firman, menerimanya namun tidak tahan dengan cobaan. Semak duri melambangkan hati manusia yang mendengar firman Tuhan namun terbuai dengan hal-hal duniawi sehingga ia tidak berbuah. Sedangkan tanah yang baik melambangkan hati manusia yang mendengar dan mengerti firman dan menyimpannya dalam hatinya sehingga menghasilkan buah.
Alasan memilh perumpamaan ini:
Kami memilih perumpamaan ini karena menyadarkan kita sebagai manusia bahwa ada beragam jenis perilaku manusia dalam menghadapi firman Allah yang hidup. Ada manusia dengan penuh keterbukaan dan keteguhan menghadapi cobaan, ada pula yang pada akhirnya menyerah dan jatuh dalam dosa berkepanjangan. Perumpamaan ini sangat cocok untuk menggambarkan kehidupan manusia di zaman modern sekarang ini, di mana banyak sekali manusia yang menerima namun tidak kuat atas cobaan, bahkan banyak pula yang mengabaikan firman Allah.

Pelajaran-pelajaran dari perumpamaan ini:
1. Kita harus dapat menjadi seperi tanah yang baik, yang mengerti dan melaksanakan firmanNya. Hal tersebut akan membuat kita menjadi manusia yang mampu menghasilkan buah yang baik untuk sesama manusia dan untuk Yesus.
2. Dalam melaksanakan firman Allah, kita akan menghadapi berbagai cobaan dan godaan dunia. Jika kita tidak berhasil mengatasinya, maka kita akan menjadi seperti tanah berbatu-batu dan semak duri.
3. Kunci untuk menghasilkan buah pertama-tama adalah menyadari bahwa Tuhan Yesus sedang menabur benih (firman) atas kita. Karenanya, sebagai manusia kita memiliki pilihan untuk menjadi manusia yang mau menerimanya dan siap menghadapi cobaan dan godaan dunia atau menjadi manusia yang tidak tahan dengan hal tersebut dan pada akhirnya tidak menghasilkan buah.

Shock Effect:
Shock effect dari perumpamaan ini adalah ketika benih yang jatuh ditanah yang baik menghasilkan buah. Bahkan dalam firmanNya, Yesus mengatakan bahwa buah yang dihasilkan berkali-kali lipat hingga 100, 60, 30 kali. Hal ini menandakan bahwa Tuhan menghendaki kita untuk menjadi tanah yang baik sehingga bisa berbuah dan buah kita berguna untuk sesama kita dan terutama untuk Yesus.

1 comment: